saya, sudah sangat lama g nulis cerita fiksi, bahkan tulisan yang pernah niat saya jadiin novelpun saya lupa dimana filenya, sangking lamanya g pernah nulis, adel uda pernah nagih itu berulang kali :D
saya hari ini pengen nulis, yuk mari, kita menjelajah dan membangkitkan *lagi* alam liar seorang linda xD
Malam yang sendu, masih saja hari ini hujan. dilihat dari sudut pandang duduk dimanapun, tetap saja kelihatan hujan. jelas, ruangan ini dikelilingi kaca, tumbuhan merambat, dan tanaman lainnya yang menyejukkan mata. dan tiap sabtu malam, farah duduk dipojokan, gadis manis, berambut lurus sebahu, berhidung mancung, sekalipun sedikit. ah entahlah apa itu bisa disebut mancung? kakaknya lebih suka menyebutnya sedikit maju, dan agak mundur.
"knapa elo selalu tau gue ada disini" kalimat dingin keluar dari mulutnya, sekalipun tanpa menatap manusia yang sudah duduk manis didepannya.
"karna emang uda kebiasaan elo, kmana lagi kalo uda ditelpon g diangkat"
mahendra, sahabatnya sejak SMA, mulai mengoceh kesana kemari, sambil mengibas-ibaskan jaketnya yang basah. Mahendra, untuk ukuran cowok setengah baya, yang belum terlalu matang juga tidak terlalu muda, termasuk kategori ganteng. tingginya mendekati 170 cm, panggilannya endra, tapi farah lebih suka memanggilnya mahen, dan paling sering memanggilnya maho.
"bisakah kita seperti manusia normal, yang bicara dengan tatapan?"
farah menghentikan ketikan jarinya diatas keyboard. Menatap lekat manusia didepannya. "bisakah elo g mengganggu konsentrasi gue menulis?" kacamata berframe hitam yang hari ini ia gunakan mempertegas siluet wajahnya, tatapan tajam, poni samping yang sepertinya sudah terlalu panjang, ia biarkan mengganggu matanya.
"dasar mak lampir, jutek banget sih neng, PMS ya? oh lupa, bawa'an orok"
"bukan, bukan bawa'an orok, infeksi alien"
"hahahaha, elo faraa, pengen gue sumpel pake popok kalo uda mulai becanda"
"g sekalian softex?"
"ah gak ah, mahal, terus kebanyakan pilihan, ada yang bersayap, ada yang gak bersayap, ada yang maxi ada yang mini, mereknya banyak, terus ada yang apa itu, yang kecil, yang biasanya elo nyuruh gue beli...."
CLETAK
"adoooh"
"enak g ditimpuk benda kecil?" ngakak sambil nunjuk tipe-x yang dia bawa hari ini
"aseeem, elo ngapain bawa gituan? emang fungsi nghapus tulisan dilepi ya?"
"uda deh uda deh g usah kepo"
"bagus, ada perubahan dalam perbendaharaaan bawa'an ditas elo. terus elo kapan move on dari tempat duduk elo yang abadi 2 tahun ini?"
"eh, gue sering move on keles, kemarin tempat duduk gue dipojokan situ" nunjuk tempat paling pojok diruangan
"tempat duduk ati elo kelesssss"
"udah deh mahooo, gue uda g punya ati" tatapan kosong farah ke arah hujan deras, membangunkan memori sedingin hujan diluar, ah farah, kamu menarik, tapi seperti hujan deras itu, kamu belum tau kapan kamu berhenti turun, sampai Yang Kuasa berkuasa menghentikan itu
"yang mati itu dia, bukan ati elo. dia gak bakal bisa balik fara" saut endra kalem
"iya gue tau" semakin pelan suara farah
"ah udah ah, percakapan kayak ginian kira2 uda 116x2 kali dihidup gue sama elo"
"hahahaha, pinter banget elo kalo ngitung, padahal unas juga ngepas nilainya" farah ngakak karna punya senjata telak buat endra
"udah deh ya, g usah diingetin, dasar kopi"
"eh, kulit gue kuning langsat ya, g mirip kopi, enak aja lho ngatain gue kopi, kulit kayak snow white gini"
"elo itu kopi, kopi dikedai ini, kita dikasi kopi yang masi asli, g pake gula dan g pake sejenisnya, gula pun dipisah, campuran lainnya dipisah, gue butuh mencampur dengan takaran yang pas,biar enak rasanya, biar bisa elo sautin dengan ramah"
"hmmm, dan kondisi ati gue kayak kopi, gue butuh seseorang yang mampu meracik dan ngehidangin ke gue kopi yang enak buat gue minum, gue minum sampe abis"
"that's right, this it dear, kopi ala mahendra served for you" nyodorin kopi
"no dear, i know your taste, pasti pait, g satu selera sama gue"
"elooo, belum dicoba racikan gue uda bilang g enak, dasar alien"
"hahahahahaha, sorry maho, i am not interested with your coffe now, maybe next timelah ya, racikan gue lebi enak"
"mak lampir"
"pulang yuk, bawa mobil kan?"
"yoi, ayok neng, monggo, 100rebu"
"dasar, matre"
"buat anak bini atuh neeng"
farah menjawab sautan endra sambil nyengir nutup laptopnya, part yang sejenak ia baca dari tulisannya hari ini, sempat membuat dia senyum sejenak,
kadang aku duduk disini mengutuki hari
menjelajah ruang yang hari ini kau tak disini
kamu mati, ak disini
knapa tak kau ajak saja aku dulu?
knapa kamu pergi sendiri?
bahkan hari ini,
ada yang menyebutku kopi
iya,
kopi..
biji hitam yang dicintai banyak orang
tapi terlalu kelu untuk ak telan
Kopi #1
skip to main |
skip to sidebar
Learn more, dream more!
Pages
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
About Me
- Lyra
- heroe's city, Jawa Timur, Indonesia
- mengapa saya menulis? menulis semacam monolog dengan diri saya, dengan sisi lain yang lebih bijak, dan berjeda
Popular Posts
Blog Archive
Labels
- absurd (21)
- cerpen (1)
- final project (8)
- iseng (8)
- l.i.f.e (86)
- last (2)
- life (34)
- lovely song (15)
- my Caz (14)
- my experieNce (6)
- my footprints (34)
- my MinD (126)
- part of love (29)
- pOeTry (5)
- quote (2)
- ramadhan (2)
- simple think (7)
- something the Lord created (6)
- sTupid mind (18)
- tinta merah (5)
- wishlist (1)
2 comments:
kakak galau ya? mau jadi writer apa engineer? :p
kok galau, wong nulis cerpen diarani galau, Ndanio novel, diwara pengen bunuh diri la.e -.-a pengen jadi singer aslie, tp suara sering serak :v
wes koe ojo kepo2 mak :v
Post a Comment